Filed under: significant others
Telepon ke-1
” Halo?”
” eh, dimana?”
“di Depok”
” lu tuh, pindah gak bilang-bilang”
” belom, gue belom pindah, baru nyicil mindahin barang”
” ntar sore aku kesana deh”
“ok”
Klik. Telepon ditutup. Aku tunggu sore itu, dan kau tak datang. Kau tak pernah datang kembali. Dan keberanianku tak cukup untuk memintamu datang kembali. Walaupun sungguh, aku ingin. Sampai di akhir tahun yang kedua, saat rindu ingin kusematkan dibawah bantal namun kemudian meronta-ronta dengan gilanya. Aku menyerah. Aku harus temukan kau, dan jika perlu aku meminta.
Telepon ke-2
” bisa bicara dengan X?”
” ehhhh….sedang di rumah mertuanya, darimana?”
Tenggorokanku terasa tertebas pisau samurai. Mataku pedas bukan main. Jantungku berdetak tak berirama. Aku limbung. Mau pingsan, tapi tak bisa.
Dan hari ini, kau ada di layar facebook ku. Aih.
2 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
lain ti baheula atuh kang
urang teh pateupang
iyeu hate abdi atuh kang
emut bae ka engkang
teu beunang dipapalerkeun
M 02.12.09 @ 12:09 amteu beunang dibebenjokeun
…
…
…
Tampoooolllll!!!
mariskova 04.18.09 @ 7:11 am