Filed under: reflection
Waktu saya kecil, bulan puasa merupakan bulan pilihan. Maksudnya? Menurut ayah saya, anak kecil tidak harus berpuasa (sebab beliau sendiri pun tak berpuasa). Sedangkan menurut ibu saya, puasa itu harus . Saya, sang anak kecil saat itu, menganggap pendapat kedua ortu saya yang saling berlawanan itu merupakan ajang pemilihan suara.
Lucunya ortu saya itu dalam ketidakkompakan pendapat mereka ternyata saling mendukung. Lha iya, untuk seorang yang takberpuasa dan berkampanye tak udah berpuasa untuk para anak kecil, ayah sayalah yang malah membangunkan orang-orang untuk sahur. Sementara ibu saya ngomel-ngomel karena kesiangan bangun dan harus masak ini-itu, ayah saya membantu menghidangkan makanan.
Dan di pagi hari, pada saat kami semua berpuasa, ibu saya yang menggalakkkan gerakan berpuasa, tetap menyediakan makan pagi bagi ayah saya. Ayah saya? Lucunya beliau tak mau menyentuh makanan itu. Kiranya ayah saya sebenarnya ingin mencoba puasa, tapi entah mungkin gengsi atau ragu tidak mau memplokamirkan diri ikut berpuasa. Paling-paling beliau akhirnya menunda jadwal makannya saja.
Ayah saya yang entah sekuler, atau non agamis, banyak memberi nuansa kedamaian dalam hati saya. Tanpa perduli bulan puasa, bulan berantem, sedang ada rejeki ataupun sedang susah. Mukanya tak bereksperesi: menghadapi orang marah-marah, menangis, atau memuji-muji. Jika orang-orang sedang menggunjingkan sesuatu, komentarnya minim, paling mentok cuma “o ya?” dengan mukanya yang datar.
Ibu saya yang seringnya menggebu-gebu kalau berbicara, matanya yang tak pernah saya bisa lupa. Bak kaca , mata beliau memancarkan perasaan-perasaanya yang sebenarnya. Dan yang sebenar-benarnya semangat untuk hidup ayah saya adalah bersumber dari ibu saya. Di saat hidup sulit, ibu saya bisa dengan tegar berkata kepada orang lain ” ya, hidup saya sedang sulit” dan tangan kakinya tetap berlari meskipun airmatanya berjatuhan. Berusaha, berusaha dan berusaha.
Puasa tahun ini terasa saya pun punya pilihan untuk berpuasa atau tidak. Secara saya tidak diwajibkan berpuasa, tapi ada kerinduan untuk berpuasa. Walau secara fisik saya tidak berpuasa dari makanan dan minuman. Saya niatkan untuk mempuasakan keinginan-keinginan saya : keinginan marah, keinginan untuk meminta lebih dari perusahaan, keinginan untuk menjatuhkan orang lain, keinginan untuk melawan pendapat orang lain.
Kembal ke soal puasa, seperti sewaktu saya kecil: saya bisa makan dan minum tapi tokh saya memilih untuk berpuasa. Sekarang ini tantangannya adalah, saya bisa jika saya mau marah, menuding, mengumpat, menggertak kalau perlu menggebrak. Tapi, kali ini saya mau memilih untuk tidak. Puasa.
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>