when u’re out of practice
July 23, 2009, 9:00 pm
Filed under:
feeling
Skills, they say , require practice.
Just look at your biking skills, when you used to ride a bike in school, then after awhile you found yourself wabbled alot on the bike . As soon as you got on it, you’ll the hang of it again.
Kindness is something you give to people because of what you have. No matter what it is : stuff or attention. It takes two to make it work. One should be willing to give, the other should be open to receive. When one of those fails to contribute, such act can not be defined as kindness. It also requires practice to get to know what things mean alot for one another.
Farewell, is the thing I have been out of practice. I am not really and have never been used to. I never wanted to. When the time is approaching, I usually run away and conceal my self in a I-dont-need-you-so-i-will-not-miss-you mode. Why? Coz I have been never good at coping with it. Denial? Some psychologist fancy the words so much but In would rather substitute the word with “processing to cope with changes”. Just tell those shrink to analyze their own feeling when they have to deal with real things but their clients. It ’s allright to deny it for awhile. It’s allright to try.
Guess I am just preparing some allibi and justification and faking smiles while I am hiding behind the pantry door choked with my madness. Guess that … I’ll never pass that way again…
No matter what
It broke many times before, but I decided to give it to you. Please promise me that you will take good care of it. Coz it is really fragile, you know. It’s not made of stone, though it may seem to.
Even if I gave it to you, I know there is always a chance that you will hurt it. If it does happen, please take some time to heal. You know why? Coz you have a special space in it. No matter how bizarre they see it.
When I gave it to you, please do not let anyone know. And if one day things could really go wrong, it doesnt matter to me. You know why? Coz you have filled an empy space in it. And it’s still for you. No matter what.
Ini (bukan) sekedar cinta lama bersemi kembali
Telepon ke-1
” Halo?”
” eh, dimana?”
“di Depok”
” lu tuh, pindah gak bilang-bilang”
” belom, gue belom pindah, baru nyicil mindahin barang”
” ntar sore aku kesana deh”
“ok”
Klik. Telepon ditutup. Aku tunggu sore itu, dan kau tak datang. Kau tak pernah datang kembali. Dan keberanianku tak cukup untuk memintamu datang kembali. Walaupun sungguh, aku ingin. Sampai di akhir tahun yang kedua, saat rindu ingin kusematkan dibawah bantal namun kemudian meronta-ronta dengan gilanya. Aku menyerah. Aku harus temukan kau, dan jika perlu aku meminta.
Telepon ke-2
” bisa bicara dengan X?”
” ehhhh….sedang di rumah mertuanya, darimana?”
Tenggorokanku terasa tertebas pisau samurai. Mataku pedas bukan main. Jantungku berdetak tak berirama. Aku limbung. Mau pingsan, tapi tak bisa.
Dan hari ini, kau ada di layar facebook ku. Aih.
Thank you , God
November 26, 2008, 3:26 am
Filed under:
reflection
Some people do not know whether they dream during their sleep. Some can’t recall whether they dream in black and white, or colorful.
I have some dreams I remember vividly. Some need personal interpretation, and for such superstitious reasons might be an indication or somekind of premonition.
Recent dreams I have, about people I wish to vent my anger at. I could feel the boiling temperature in my blood while thinking of their wrongdoings or misdeeds. I swear I would love to let the words flow from my shaky brain and make their lives’ miserable.
Somehow, this guy I live with seems to have all reasons in the world to calm me down. As he gently says ” whatever you do and say is your investment for later life”, I ‘d be a fool to be burned with my anger.
I know I have the capacity to mock, accuse and point others’ fault. I could tell the whole world that I am damn better than these culprits. But then , what do I get? Respect? Dignity? Contentment?
Then last night before we went to bed, my eldest son lead the prayer. Unexpectedly, twice. The next thing I remember was I woke up in the morning feeling unsually relief. I recalled that I dreamed of trying to blow my anger but i ended up giving some soft spoken advice to the person. Afer that I felt extremely heartlifted without the urge of taking any revenge. I gave it up.
Thank you God, for keeping me in your company . n for the dream.
Ibu seperti ibumu
Kalau ada ibu kawanmu yang mengantarkan ke sekolah, menunggui sampai selesai dan mengantar pulang, itu ibu kawanmu, nak. Ibumu ini cuma sanggup mengantarkan mu ke sekolah dengan doa, dan selebihnya menitipkan kepada orang yang bisa dipercayai untuk mengantar dan menjemput.
Kalau ibu sepupumu membelikan anaknya stiker 3 buku, permen termahal di swalayan, atau apa pun itu, ingatlah itu ibu sepupumu.
Ibu mungkin hanya membelikan tiga lembar stiker yang harus kau bagi dengan adik-adikmu, permen yang harganya tidak melebihi uang sakumu yang selembar bergambar pangeran Diponegoro, baju dan sepatu yang cukup nyaman kau pakai dan dapat diturunkan ke kedua adikmu.
Ibu-ibu yang lain mungkin tidak seperti ibumu. Tapi ada beberapa ibu lain yang menyerupai ibu juga. Ibu yang bekerja, ibu yang mencintai anak-anaknya, ibu yang berusaha meluangkan waktu untuk bangun lebih pagi supaya sempat memandikan kalian sebelum ke kantor, menyiapkan sarapan, setelah pulang kantor untuk bisa menemani kalian belajar dan mengantarkan tidur dengan cerita dan doa.
Ibu yang seperti kalian punya ini, tak pernah berhenti merasakan bahagia dikelilingi kalian. Dua tangan yang ibu punya , yang diperebutkan oleh tiga pasang tangan mungil kalian dan diciumi sampai kalian tertidur, memang diciptakan untuk memeluk makhluk menakjubkan seperti kalian bertiga, bukan jadi obyek manicure salon mahal.
Walaupun tak bisa salto seperti ultraman, ataupun memiliki jurus seribu bayangan seperti naruto, ibu bisa tetap tegak berdiri dengan disokong tiga pendekar seperti kalian dan dilindungi oleh pendekar gaek macam ajimu.
Ibu seperti ibumu ini ingin mencintai tanpa bersyarat, namun hidup tanpa dicintai akan terasa sungguh berat.
Puasa ahhh…
September 11, 2008, 3:41 am
Filed under:
reflection
Waktu saya kecil, bulan puasa merupakan bulan pilihan. Maksudnya? Menurut ayah saya, anak kecil tidak harus berpuasa (sebab beliau sendiri pun tak berpuasa). Sedangkan menurut ibu saya, puasa itu harus . Saya, sang anak kecil saat itu, menganggap pendapat kedua ortu saya yang saling berlawanan itu merupakan ajang pemilihan suara.
Lucunya ortu saya itu dalam ketidakkompakan pendapat mereka ternyata saling mendukung. Lha iya, untuk seorang yang takberpuasa dan berkampanye tak udah berpuasa untuk para anak kecil, ayah sayalah yang malah membangunkan orang-orang untuk sahur. Sementara ibu saya ngomel-ngomel karena kesiangan bangun dan harus masak ini-itu, ayah saya membantu menghidangkan makanan.
Dan di pagi hari, pada saat kami semua berpuasa, ibu saya yang menggalakkkan gerakan berpuasa, tetap menyediakan makan pagi bagi ayah saya. Ayah saya? Lucunya beliau tak mau menyentuh makanan itu. Kiranya ayah saya sebenarnya ingin mencoba puasa, tapi entah mungkin gengsi atau ragu tidak mau memplokamirkan diri ikut berpuasa. Paling-paling beliau akhirnya menunda jadwal makannya saja.
Ayah saya yang entah sekuler, atau non agamis, banyak memberi nuansa kedamaian dalam hati saya. Tanpa perduli bulan puasa, bulan berantem, sedang ada rejeki ataupun sedang susah. Mukanya tak bereksperesi: menghadapi orang marah-marah, menangis, atau memuji-muji. Jika orang-orang sedang menggunjingkan sesuatu, komentarnya minim, paling mentok cuma “o ya?” dengan mukanya yang datar.
Ibu saya yang seringnya menggebu-gebu kalau berbicara, matanya yang tak pernah saya bisa lupa. Bak kaca , mata beliau memancarkan perasaan-perasaanya yang sebenarnya. Dan yang sebenar-benarnya semangat untuk hidup ayah saya adalah bersumber dari ibu saya. Di saat hidup sulit, ibu saya bisa dengan tegar berkata kepada orang lain ” ya, hidup saya sedang sulit” dan tangan kakinya tetap berlari meskipun airmatanya berjatuhan. Berusaha, berusaha dan berusaha.
Puasa tahun ini terasa saya pun punya pilihan untuk berpuasa atau tidak. Secara saya tidak diwajibkan berpuasa, tapi ada kerinduan untuk berpuasa. Walau secara fisik saya tidak berpuasa dari makanan dan minuman. Saya niatkan untuk mempuasakan keinginan-keinginan saya : keinginan marah, keinginan untuk meminta lebih dari perusahaan, keinginan untuk menjatuhkan orang lain, keinginan untuk melawan pendapat orang lain.
Kembal ke soal puasa, seperti sewaktu saya kecil: saya bisa makan dan minum tapi tokh saya memilih untuk berpuasa. Sekarang ini tantangannya adalah, saya bisa jika saya mau marah, menuding, mengumpat, menggertak kalau perlu menggebrak. Tapi, kali ini saya mau memilih untuk tidak. Puasa.
Puasa ah…..
September 7, 2008, 6:38 pm
Filed under:
reflection
Waktu saya kecil, bulan puasa merupakan bulan pilihan. Maksudnya? Menurut ayah saya, anak kecil tidak harus berpuasa (sebab beliau sendiri pun tak berpuasa). Sedangkan menurut ibu saya, puasa itu harus . Saya, sang anak kecil saat itu, menganggap pendapat kedua ortu saya yang saling berlawanan itu merupakan ajang pemilihan suara.
Lucunya ortu saya itu dalam ketidakkompakan pendapat mereka ternyata saling mendukung. Lha iya, untuk seorang yang takberpuasa dan berkampanye tak udah berpuasa untuk para anak kecil, ayah sayalah yang malah membangunkan orang-orang untuk sahur. Sementara ibu saya ngomel-ngomel karena kesiangan bangun dan harus masak ini-itu, ayah saya membantu menghidangkan makanan.
Dan di pagi hari, pada saat kami semua berpuasa, ibu saya yang menggalakkkan gerakan berpuasa, tetap menyediakan makan pagi bagi ayah saya. Ayah saya? Lucunya beliau tak mau menyentuh makanan itu. Kiranya ayah saya sebenarnya ingin mencoba puasa, tapi entah mungkin gengsi atau ragu tidak mau memplokamirkan diri ikut berpuasa. Paling-paling beliau akhirnya menunda jadwal makannya saja.
Ayah saya yang entah sekuler, atau non agamis, banyak memberi nuansa kedamaian dalam hati saya. Tanpa perduli bulan puasa, bulan berantem, sedang ada rejeki ataupun sedang susah. Mukanya tak bereksperesi: menghadapi orang marah-marah, menangis, atau memuji-muji. Jika orang-orang sedang menggunjingkan sesuatu, komentarnya minim, paling mentok cuma “o ya?” dengan mukanya yang datar.
Ibu saya yang seringnya menggebu-gebu kalau berbicara, matanya yang tak pernah saya bisa lupa. Bak kaca , mata beliau memancarkan perasaan-perasaanya yang sebenarnya. Dan yang sebenar-benarnya semangat untuk hidup ayah saya adalah bersumber dari ibu saya. Di saat hidup sulit, ibu saya bisa dengan tegar berkata kepada orang lain ” ya, hidup saya sedang sulit” dan tangan kakinya tetap berlari meskipun airmatanya berjatuhan. Berusaha, berusaha dan berusaha.
Puasa tahun ini terasa saya pun punya pilihan untuk berpuasa atau tidak. Secara saya tidak diwajibkan berpuasa, tapi ada kerinduan untuk berpuasa. Walau secara fisik saya tidak berpuasa dari makanan dan minuman. Saya niatkan untuk mempuasakan keinginan-keinginan saya : keinginan marah, keinginan untuk meminta lebih dari perusahaan, keinginan untuk menjatuhkan orang lain, keinginan untuk melawan pendapat orang lain.
Kembal ke soal puasa, seperti sewaktu saya kecil: saya bisa makan dan minum tapi tokh saya memilih untuk berpuasa. Sekarang ini tantangannya adalah, saya bisa jika saya mau marah, menuding, mengumpat, menggertak kalau perlu menggebrak. Tapi, kali ini saya mau memilih untuk tidak. Puasa.
Mendaki Gunung Kesabaran
Kalau ada orang yang menderita luka, sungguh mudah bagi kita untuk berkata "sabar". Kenapa? Karena kita tidak merasakan perihnya luka, meskipun kita mungkin melihat ada darah yang keluar dari luka. Dengan kata lain: kita tidak dalam penderitaan tersebut.
Tapi kalau kita mau menelaah lagi nasihat kita agar orang bersabar, sebenarnya kita bisa belajar tentang hal yang berbeda. Jika orang terluka, boleh-boleh saja kita berlaku bijaksana menasehati, mengingatkan atau bahkan mengkritik. Gradasinya bisa macam-macam sampai tingkat menghina dengan bungkus simpati.
Kembali ke persoalan orang yang terluka, mereka tidak butuh nasehat supaya lain kali tidak terluka. Yang terjadi adalah, jika sang terluka meringis ataupun menangis menahan sakit merupakan saat yang paling tepat untuk tidak mengomentari. Ia butuh penerimaan dia sedang terluka. Itu saja. Bukan nasehat. Bukan cibiran "kalau gue jadi lu siih, gue begini begitu, jadi gue nggak terluka". Lha. Wong keadaan yang ada di depan mata adalah dia terluka. Titik.
Dan satu hal lain lagi, saat sang terluka menangis kesakitan, bukan berarti dia tidak sabar. Coba anda bayangkan, anda terluka parah dan meringis kesakitan, lalu teman anda yang melihat berujar " jadi orang tuh musti sabar, bersyukur, ikhlas, dll, dsb". Apa yang akan anda katakan?
Pada saat orang kesakitan, hormatilah rasa sakitnya. Jika orang sedang berkeluh kesah atas kegundahannya, dengarkanlah. Andaikan anda bisa menerima penderitaanya, sesungguhnya itu bentuk pertolongan yang lebih dari cukup. Bukan karena kita orang yang terdekat dengan mereka menjadikan kita orang yang serba tahu tentang bagaimana menjalankan hidup orang lain. Simpanlah dulu nasehat kita. Bagaimanapun juga, kita tidak menjalankan penderitaannya. Jikalau pun kita merasakan ada kemiripan dengan kejadian yang pernah kita alami, tidak perlulah kita menggurui. Jadikan pengalaman masa lalu kita itu untuk turut merasakan kepedihan luka si penderita. Dengan begitu, kita berjalan disisinya, menjadi temannya.
Bagaimanapun juga, sebagai orang yang sedang tidak terluka, kita bisa mengulurkan lengan dengan penuh kesabaran. Dengan cara begitu, kita lah yang mendapat bonus pencerahan.
Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, untuk kawan saya yang tengah terluka.
Mana ujungnya, Tuhan?
July 18, 2008, 12:13 am
Filed under:
feeling
Jika jalan ada ujungnya, namun jalan ini kemana mengarahnya? Benarkah saya hilang arah, seperti kata mereka? Lalu siapakah mereka yang berani mengaku ada di jalan yang benar, sedangkan mereka belum pernah sampai ke ujungnya. Lalu siapa saya, yang baru belajar berjalan namun berani-beraninya menentang orang-orang yang merasa benar?
Maybe they’re right, maybe they’re not,
Maybe I’m not really wrong
Banyak orang butuh rasa "penerimaan". Sang mertua merasa perlu diterima segala nasihatnya, sang ipar perlu merasa diterima kekurangannya, para orang tua merasa perlu diterima pendapat dan keinginannya, suami merasa perlu diterima super ego dan kepentingannya, pembantu rumah tangga perlu diterima ketidaktahuan dan kebutuhan ekonominya, anak-anak perlu merasa diterima keingintahuan dan kebutuhan akan kedeketan fisik.
Ternyata saya tidak terlalu penuh penerimaan. Bukan tidak ikhlas . Sungguh. Kadang lucu juga rasanya orang menganggap saya terlalu tinggi: seolah saya ini fatamorgana. Padahal saya ini juga padang pasir yang merindukan oase. Ternyata oase yang saya lihat pun fatamorgana. Ironis.
Walau hidup tak terlalu parah memperlakukan saya, rasa penat seringkali tidak bisa saya taklukkan. Luar biasa penat. Pembebasan diri satu-satunya adalah meyakinkan diri bahwa semua ada batasnya. Di atas sedih, ada airmata dan akan terbit harapan baru.
Anehnya saya bukan merasa sepi, bukan juga kecewa. Entah apa namanya, tapi kalau harus digambarkan dengan kalimat sederhana: " I wish things were different". atau "I wish I lived someplace else".Eh, tapi kayaknya for the time being rada susah tuh terjadi.
Hidup dengan orang lain berart lebih baik…
May 7, 2008, 3:43 am
Filed under:
feeling
1. Menelan ludah dan menarik nafas saat ingin menyalak atau menerkam
2. Mendengarkan dan berfikir keras untuk mengolah kata, sebelum bicara
3. Memiliki barang yang disayangi dan mengizinkannya menjadi rusak karena dipakai, salah penggunaan, atau tak dirawat
4. Tak mendengarkan kata-kata yang tak berkenan dan membuangnya jauh dari ingatan
5. Memberi bukan untuk dapat menerima yang diharapkan dikemudian hari
6. Menjelaskan, bukan membela diri
7. Berkata "mungkin anda benar", saat menerima kritik
8. Berlatih teknik pernapasan yang mumpuni (hehe)